Ilmu bisa berasal dari aman saja, Sebut saja pengalaman saya yang satu ini. Kemarin sore, ketika saya berkunjung ke tetangga untuk minta air akan memasak, saya disambut oleh anak tetangga itu yang masih berusia sekitar 4 tahun (kalau info dari ibu, kurang dari 4 tahun). Sang anak marah-marah karena dibangunkan tidur dan disuruh mandi. Sang anak melempar yang ada didekatnya. Dapur yang bergandengan dengan tempat istirahat keluarga langsung berantakan.
Setelah agak reda, sang Ibu mengajak bocara anaknya dengan nada menggoda, "Mang gitu yang di ajarkan guru tadi pagi ya...." kata sang Ibu. Si anak diam saja dan memainkan barang yang masih dipegangnya. Disusul oleh sang Ayah mengajak bicara si anak, "Tadi, Ais blajar menyanyi pak Joko..." kata si Ayah. TK di pedalaman ini terkenal dengan materi pelajaran yang "HEBAT". Betapa tidak, anak seusia TK telah diajarkan operasi penjumlahan dan pengurangan samapi bilangan puluhan. Padahal anak usia TK itu masih masa bermain.
Ketika mendengar anaknya diajar menyanyi, saya menjadi terkejut (aneh... sesuai yang benar malah mengejutkan, ANEH atau LUCU). Kembali sang Ibu menyambung pembicaraan tersebut tersebut dengan beberapa kejadian yang terjadi di TK dan dibawa ke rumah. Ternyata yang paling mengesankan bagi sang anak adalah bahasa kemarahan SANG GURU. Si anak sering menirukan gaya guru marah mempraktikkannya di rumah. Sang Ayah dan sang Ibu menjadi murid dan si anak menjadi guru yang sedang marah.
"Ayah, ayo diam....", "Ibu.... Tangannya di atas meja", "Ayo anak-anak.... jangan ramai saja". Itulah beberapa bahasa yang sering dipraktikkan si anak di rumah. Sungguh menjadi apakah anak TK yang diajarkan dengan gaya seperti itu. Apakah itu Pendidikan Karakter dan Budaya Bangdsa yang mau di terapkan???
Chayo Indonesia...............
Jumat, 04 November 2011
Selasa, 01 November 2011
Bahaya Western Attitude
Sudah lama saya tidak nonton acara TV (bahasanya pake "nonton acara TV" bukan "nonton TV" karena kalau nonton TV sudah tiap saat, tapi hanya TV-nya saja, g ada gambarnya). Kali ini ada kesempatan untuk menonton TV sampai pagi. Hal ini karena ada kegiatan MGPM dan ada fasilitas penginapan, TV dan listrik 24 jam (kalau dikampung listrik hanya 5 jam saja itu pun pada malam hari). Kesempatan ini tidak disia-siakan, kali ini TV malah yang nonton saya tidur. he he he he.......
Ada hal yang miris dalam perasaan dan pikiran ini. Setiap menonton iklan yang di tayangkan oleh stasiun TV, ada hal yang sudah menjadi kebiasaan, pola pikir, dan sikap yang sama. Hal ini mungkin dianggap sudah biasa oleh penonton TV yang tidak peduli dengan sikap generasi penerusnya.
Apa yang membuat miris hati dan otak tersebut? Hampir setiap iklan yang muncul ada gambar ilmuwan dari negeri barat. Entah diamengaku PAKAR, DOKTER AHLI, PROFESOR, atau yang lainya. Dengan berpakaian jubah putih dan gaya yang meyakinkan, mereka menjelaskan kelebihan produknya dilengkapi dengan logat bahasa Indonesia "pelo".
Apa kira-kira imbas bagi generasi muda? sikap pesimis untuk menjadi ilmuan. Muncul pola pikir "mengapa yang muncul di iklan hanya ahli-ahli dari barat? bukan orang Indonesia? berarti orang Indonesia tidak (belum) mampu untuk menjadi seorang ahli/ilmuwan?". Generasi penerus akhirnya akan menjadi penikmat produk-produk yang ditawarkan (memeng itu yang menjadi harapan produser produk tersebut). Mereka akan meremehkan produk Indonesia yang tidak memakai tenaga ahli dari barat.
Anjuran berbagai orang-orang terkemuka di negara ini akan menjadi sia-sia lagi. Padahal UKM yang ada di Indonesia cenderung menggunakan tenaga ahli dari dalam negeri dengan produk 100% asli Indonesia. Generasi penerus akan menjadi orang yang terjajah oleh iklan-iklan tersebut, padahal belum ada KEPASTIAN bahwa ahli yang ada di iklan tersebut adalah benar-benar seorang AHLI atau hanya seorang artis iklan yang dibayar untuk memerankan seorang AHLI dalam bidang tertentu.
AYO..................KITA PASTI BISA.............
Ada hal yang miris dalam perasaan dan pikiran ini. Setiap menonton iklan yang di tayangkan oleh stasiun TV, ada hal yang sudah menjadi kebiasaan, pola pikir, dan sikap yang sama. Hal ini mungkin dianggap sudah biasa oleh penonton TV yang tidak peduli dengan sikap generasi penerusnya.
Apa yang membuat miris hati dan otak tersebut? Hampir setiap iklan yang muncul ada gambar ilmuwan dari negeri barat. Entah diamengaku PAKAR, DOKTER AHLI, PROFESOR, atau yang lainya. Dengan berpakaian jubah putih dan gaya yang meyakinkan, mereka menjelaskan kelebihan produknya dilengkapi dengan logat bahasa Indonesia "pelo".
Apa kira-kira imbas bagi generasi muda? sikap pesimis untuk menjadi ilmuan. Muncul pola pikir "mengapa yang muncul di iklan hanya ahli-ahli dari barat? bukan orang Indonesia? berarti orang Indonesia tidak (belum) mampu untuk menjadi seorang ahli/ilmuwan?". Generasi penerus akhirnya akan menjadi penikmat produk-produk yang ditawarkan (memeng itu yang menjadi harapan produser produk tersebut). Mereka akan meremehkan produk Indonesia yang tidak memakai tenaga ahli dari barat.
Anjuran berbagai orang-orang terkemuka di negara ini akan menjadi sia-sia lagi. Padahal UKM yang ada di Indonesia cenderung menggunakan tenaga ahli dari dalam negeri dengan produk 100% asli Indonesia. Generasi penerus akan menjadi orang yang terjajah oleh iklan-iklan tersebut, padahal belum ada KEPASTIAN bahwa ahli yang ada di iklan tersebut adalah benar-benar seorang AHLI atau hanya seorang artis iklan yang dibayar untuk memerankan seorang AHLI dalam bidang tertentu.
AYO..................KITA PASTI BISA.............
Senin, 31 Oktober 2011
Mencari Ide Menulis Karya Ilmiah
Kewajiban guru pada akhir-akhir ini semakin berat. Guru diwajibkan untuk membuat karya tulis ilmiah. Karya ilmiah bisa berupa hasil penulisan, artikel, resume, atau kajian kritis. Kewajiban ini harus bisa dikuasai oleh guru mulai sekarang karena pada tahun 2013 aturan ini sudah diterapkan. Tuntutan ini membuat kelabakan sebagai besar guru, terutama guru yang sudah menerima predikat guru berSERTIFIKAT. Guru yang "terpaksa" menerima predikat tersebut mencari cara bagaimana membuat karya ilmiah yang mudah.
Bagaimanakah cara mudah? Banyak widyaiswara (WI) yang mengajarkan untuk membuat karya ilmiah dengan melakukan PTK (Penelitian Tindakan Kelas). PTK yang adopsi dari negara luar tersebut diterjamahkan dalam berbagai versi, sehingga antara satu WI dengan WI yang lain bisa saja berbeda penyampaian dan pemahamannya. PTK menjadi ujung tombak guru dalam meningkat profesionalismenya dalam memberikan pengalaman pada siswa-siswanya. Akan tetapi, "pengagungan terhadap PTK menjadi bumerang bagi pemahaman guru. Guru berpendapat bahwa PTK adalah satu-satunya cara untuk membuat karya ilmiah dan meningkatkan profesionalimenya. Hal ini seharus sudah bisa dideteksi oleh para pengembang keprofesionalismean guru.
Khusus untuk daerah pedalaman seperti tempat tinggal penulis, membuat PTK mengalami beberapa hambatan. Hambatan yang paling utama adalah buku sumber atau literatur atau daftar pustaka untuk kajian pustaka dan memperkuat topik penelitian. Minimnya buku "bergizi" yang beredar di daerah pedalaman, seharusnya menjadi kajian bagi pemerintah dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru. Jika hal ini ditanyakan kepada instruktur, maka jawabannya adalah MEMANFAATKAN INTERNET. Akan tetapi jawaban tersebut tidak memuaskan, hal ini disebabkan informasi di internet masih perlu dipertanyakan. Banyak sumber di internet yang belum valid karena isinya yang masih asal-asalan.
Hambatan ini menjadi penyebab hambatan pokok manusia yang profesional, yaitu mencari ide tema yang akan dibuat karya ilmiah. Ide akan muncul jika seseorang sudah mempunyai banyak informasi baik yang diperoleh dari membaca atau dari pengalaman pribadinya.
Ayo perbanyak infomasi agar IDE MENULIS KARYA ILMIAH mudah didapat!!!!!!!!.......
Bagaimanakah cara mudah? Banyak widyaiswara (WI) yang mengajarkan untuk membuat karya ilmiah dengan melakukan PTK (Penelitian Tindakan Kelas). PTK yang adopsi dari negara luar tersebut diterjamahkan dalam berbagai versi, sehingga antara satu WI dengan WI yang lain bisa saja berbeda penyampaian dan pemahamannya. PTK menjadi ujung tombak guru dalam meningkat profesionalismenya dalam memberikan pengalaman pada siswa-siswanya. Akan tetapi, "pengagungan terhadap PTK menjadi bumerang bagi pemahaman guru. Guru berpendapat bahwa PTK adalah satu-satunya cara untuk membuat karya ilmiah dan meningkatkan profesionalimenya. Hal ini seharus sudah bisa dideteksi oleh para pengembang keprofesionalismean guru.
Khusus untuk daerah pedalaman seperti tempat tinggal penulis, membuat PTK mengalami beberapa hambatan. Hambatan yang paling utama adalah buku sumber atau literatur atau daftar pustaka untuk kajian pustaka dan memperkuat topik penelitian. Minimnya buku "bergizi" yang beredar di daerah pedalaman, seharusnya menjadi kajian bagi pemerintah dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru. Jika hal ini ditanyakan kepada instruktur, maka jawabannya adalah MEMANFAATKAN INTERNET. Akan tetapi jawaban tersebut tidak memuaskan, hal ini disebabkan informasi di internet masih perlu dipertanyakan. Banyak sumber di internet yang belum valid karena isinya yang masih asal-asalan.
Hambatan ini menjadi penyebab hambatan pokok manusia yang profesional, yaitu mencari ide tema yang akan dibuat karya ilmiah. Ide akan muncul jika seseorang sudah mempunyai banyak informasi baik yang diperoleh dari membaca atau dari pengalaman pribadinya.
Ayo perbanyak infomasi agar IDE MENULIS KARYA ILMIAH mudah didapat!!!!!!!!.......
Minggu, 30 Oktober 2011
Metode CERAMAH Masih Nomor 1
Berbagi pembaharuan dalam dunia pendidikan akhir-akhir ini dilancarkan dengan dahsyatnya. Mulai dari calon guru (mahasiswa Kependidikan) samapi dengan guru senior dilatih untuk menjadi tenaga pendidik yang PROFESIONAL. Pendidikan dan latihan menjadi ajang proyek para pembicara dan para pesertanya. Sedangkan hasil yang dibawa pulang hanyalah sekitar 10% saja.
Menagapa hanay 10%? Setiap mengikuti pendidikan dan/atau pelatihan, setiap ada pertanyaan terkait dengan kebijakan pihak dinas maupun sekolah (KS), maka jawaban yang diberikan adalah itu tergantung pada pimpinan yang bersangkutan. Hal ini memperlihatkan bahwa masih banyak missconception maupun misscomunication yang ada antara keidealan dengan pelaksanaan di lapangan.
Yang lebih parah lagi, sejak lama mahasiswa kependidikan maupun guru dicekoki berbagai metode pembelajaran yang kabarnya konstruktivis, lebih modern dan lebih yahuiiiiiiiiiiii.......... Akan tetapi, pada pelaksanaan pendidikan dan pelatihan, pembicara hampir 100% menyampaikan materinya dengan metode caramah, yang kabarnya merupakan metode pembelajaran kuno, kadaluarsa, dan sudah tidak layak lagi.
Dalam waktu 30 menit, mata ini sudah mau tertutup saja.... MAAF kan pak guru ini anak ku.......... Saya telah membuat sekolah seakan-akan tempat untuk tidur saja.... semoga saya bisa mengaplikasikan ilmu yang saya dapat dari pematari yang tidak konsisten ini.....
Menagapa hanay 10%? Setiap mengikuti pendidikan dan/atau pelatihan, setiap ada pertanyaan terkait dengan kebijakan pihak dinas maupun sekolah (KS), maka jawaban yang diberikan adalah itu tergantung pada pimpinan yang bersangkutan. Hal ini memperlihatkan bahwa masih banyak missconception maupun misscomunication yang ada antara keidealan dengan pelaksanaan di lapangan.
Yang lebih parah lagi, sejak lama mahasiswa kependidikan maupun guru dicekoki berbagai metode pembelajaran yang kabarnya konstruktivis, lebih modern dan lebih yahuiiiiiiiiiiii.......... Akan tetapi, pada pelaksanaan pendidikan dan pelatihan, pembicara hampir 100% menyampaikan materinya dengan metode caramah, yang kabarnya merupakan metode pembelajaran kuno, kadaluarsa, dan sudah tidak layak lagi.
Dalam waktu 30 menit, mata ini sudah mau tertutup saja.... MAAF kan pak guru ini anak ku.......... Saya telah membuat sekolah seakan-akan tempat untuk tidur saja.... semoga saya bisa mengaplikasikan ilmu yang saya dapat dari pematari yang tidak konsisten ini.....
Jumat, 28 Oktober 2011
Belajar Untuk BERKOMPROMI
Salah satu syarat wajib untuk menduduki kursi "empuk" bagian fungsional dalam setiap "organisasi" adalah masa bakti dalam waktu tertentu. Aliran pikiran positif berpendapat bahwa dengan masa bakti tertentu tersebut, colan fungsionaris tersebut telah mendapat ilmu yang layak untuk menjadi orang-orang penting. Modal "ilmu" tersebut akan menjadi jaminan bagi keberlangsungan dan kemajuan organisasi. Ilmu atau berbagai pengalaman yang telah di dapat selama masa bakti menunjukkan keloyalan terhadap organiasi dan memberikan kepercayaan banyak orang untuk memilih "dia" menjadi seorang pengurus/fungsionaris.
Aliran pikiran negatif berpendapat bahwa masa bakti memberikan kesempatan kepada calon fungsionaris untuk mendapat "ilmu yang tidak beres". Memang pada kenyataannya, berbagai ilmu bersliweran di sekitar kita. Entah itu ilmu yang baik maupun ilmu yang tidak baik. Apa ilmu tidak beres yang telah diperlajari dalam masa baktinya? Ilmu BERKOMPROMI. Ilmu ini menjadikan organisasi seakan-akan maju tetapi sebenarnya lemah. Lihatlah organisasi yang bernama Republik Indonesia ketika dipeagang pemimpin oleh pemimpin bernama SOEHARTO. Organisasi tersebut terlihat berkembang bahkan sudah maju, akan tetapi setelah sang pimpinan turun, bayi yang belum lahir saja sudah menanggung hutang.
Dalam organisasi yang lebih kecil, ilmu BERKOMPROmi harus dikuasai dengan baik. Jika tidak menguasai ilmu terbut, maka akibat yang fatal siap menghempas organisasi yang dipimpinnya. Ilmu kompromi yang paling dahsyat dalam bidang keuangan. Dalam era kapitalis ini, uang sudah menjadi segalanya. Uang bisa menjadi pelicin lantai, uang bisa jadi sumpal mulut, uang bisa mengobati mata merah menjadi mata berwarna hijau. Uang juga bisa jadi badai salju, bisa jadi gelombang tsunami atau menjadi lahar panas dari gunung nomor satu di dunia yang meletus.
Rakyat yang di bawah ini yag menerima ampasnya. Semua sudah dikompromikan dan semuanya telah habis tinggal ampasnya. Hanya Ikhlas Beramal saja yang menjadi dasar mereka untuk menerima semua........ Semoga semuanya BAROKAH.... walau telah tinggal ampasnya.
Aliran pikiran negatif berpendapat bahwa masa bakti memberikan kesempatan kepada calon fungsionaris untuk mendapat "ilmu yang tidak beres". Memang pada kenyataannya, berbagai ilmu bersliweran di sekitar kita. Entah itu ilmu yang baik maupun ilmu yang tidak baik. Apa ilmu tidak beres yang telah diperlajari dalam masa baktinya? Ilmu BERKOMPROMI. Ilmu ini menjadikan organisasi seakan-akan maju tetapi sebenarnya lemah. Lihatlah organisasi yang bernama Republik Indonesia ketika dipeagang pemimpin oleh pemimpin bernama SOEHARTO. Organisasi tersebut terlihat berkembang bahkan sudah maju, akan tetapi setelah sang pimpinan turun, bayi yang belum lahir saja sudah menanggung hutang.
Dalam organisasi yang lebih kecil, ilmu BERKOMPROmi harus dikuasai dengan baik. Jika tidak menguasai ilmu terbut, maka akibat yang fatal siap menghempas organisasi yang dipimpinnya. Ilmu kompromi yang paling dahsyat dalam bidang keuangan. Dalam era kapitalis ini, uang sudah menjadi segalanya. Uang bisa menjadi pelicin lantai, uang bisa jadi sumpal mulut, uang bisa mengobati mata merah menjadi mata berwarna hijau. Uang juga bisa jadi badai salju, bisa jadi gelombang tsunami atau menjadi lahar panas dari gunung nomor satu di dunia yang meletus.
Rakyat yang di bawah ini yag menerima ampasnya. Semua sudah dikompromikan dan semuanya telah habis tinggal ampasnya. Hanya Ikhlas Beramal saja yang menjadi dasar mereka untuk menerima semua........ Semoga semuanya BAROKAH.... walau telah tinggal ampasnya.
Sabtu, 13 Agustus 2011
Generasi "bukan bang toyyib"
Beberapa hari lalu saya melakukan perjalanan dari kota Malang ke kota Probolinggo. Karena keadaan memungkinkan untuk naek bis biasa (he he he... kok malah bis biasa dari pada bis PATAS?), maka saya milih bis biasa tarip biasa dengan fasilitas lumayan. Apa maksud dari kondisi menungkinkan itu? ya, saya milih bis biasa karena keadaan penumpang tidak terlalu rame dan saya lebih suka bis biasa karena saya pasti dapat banyak ILMU dalam perjalanan. Dalam bis biasa, biasa saya dapat ilmu dari penumpang lain, berbeda dengan bis PATAS yang cenderung individual dan tidur nyenyak di kursi yang empuk.
Pada saat melewati pasar LAWANG, ada anak kecil yang berdiri di samping saya. Kondisi anak itu kurang terawat, terlihat rambutnya kusut dan wajahnya belepotan dengan kotoran debuyang menempel. Setelah melihat secara seksama, baru saya tahu kalao anak itu ada seorang pengamen. Iya......... pengamen sekita usia 4-5 tahun. SUBHANALLOOOH.... Otak saya berpikir dan menganalisis jauh untuk menebak-nebak bagaimana kondisi anak ini besok dan bagaimana nasih negara ini jika generasi kecilnya sudah menjadi pengamen sejak usia dini (BALITA).
Lamunan saya buyar ketika balita tersebut sampai pada bait:
sudah tunggu saja diriku di rumah
jangan marah-marah, duduk yang manis ya
aku lagi sibuk sayang, aku lagi kerja sayang
untuk membeli beras dan sebongkah berlian
waowwwww..... seandainya dia tau makna dari lirik tersebut, pasti dia akan mikir.... Sudahkah waktunya untuk ku bertanggung jawab membeli beras untuk makan? Begitu pun seandainya ada pegawai pemerintah yang bekerja di bagian DINAS SOSIAL, pasti dia kan meneteskan AIR MATANYA mendengar kata-kata tersebut keluar dari seorang BALITA.
Suara dengan pengucapan kata-kata yang di pas untuk didengar ters mengalir tanpa hambatan. pikiran ini juga terus mengalir, tetapi tak ada solusi yang diperoleh. Hanya doa yang bisa diucapkan oleh suara lirih dalam dada.....
Semoga semua akan berjalan baik-baik saja....
Pada saat melewati pasar LAWANG, ada anak kecil yang berdiri di samping saya. Kondisi anak itu kurang terawat, terlihat rambutnya kusut dan wajahnya belepotan dengan kotoran debuyang menempel. Setelah melihat secara seksama, baru saya tahu kalao anak itu ada seorang pengamen. Iya......... pengamen sekita usia 4-5 tahun. SUBHANALLOOOH.... Otak saya berpikir dan menganalisis jauh untuk menebak-nebak bagaimana kondisi anak ini besok dan bagaimana nasih negara ini jika generasi kecilnya sudah menjadi pengamen sejak usia dini (BALITA).
Lamunan saya buyar ketika balita tersebut sampai pada bait:
sudah tunggu saja diriku di rumah
jangan marah-marah, duduk yang manis ya
aku lagi sibuk sayang, aku lagi kerja sayang
untuk membeli beras dan sebongkah berlian
waowwwww..... seandainya dia tau makna dari lirik tersebut, pasti dia akan mikir.... Sudahkah waktunya untuk ku bertanggung jawab membeli beras untuk makan? Begitu pun seandainya ada pegawai pemerintah yang bekerja di bagian DINAS SOSIAL, pasti dia kan meneteskan AIR MATANYA mendengar kata-kata tersebut keluar dari seorang BALITA.
Suara dengan pengucapan kata-kata yang di pas untuk didengar ters mengalir tanpa hambatan. pikiran ini juga terus mengalir, tetapi tak ada solusi yang diperoleh. Hanya doa yang bisa diucapkan oleh suara lirih dalam dada.....
Semoga semua akan berjalan baik-baik saja....
Kamis, 09 Juni 2011
Terima Kasih....
Alhamdulillahhhh... kata ini identik dengan ucapan terima kasih seorang hamba kepada Sang Khaliq. Benar kah pernyataan saya ini???? Saya pribadi kurang tahu, yang jelas ucapan itu mengalir begitu saja ketika saya mendapat sesuai yang menurut saya baik. Tetapi ketika saya mendapat sesuatu yang kurang baik, secara samar-samar saya masih mengucapkan Alhamdulillah, tetapi dalam dada ini masih ada yang mengganjal???
Apa yang mengganjal??? adakan kayu balok atau batu yang menghalangi ucapan saya tadi biar bisa mengalir seperti air yang melewati selang??? saya juga nggak tahu, apa yang mengganjal itu. Yang jelas ganjalan itu cukup untuk membuat diri saya menjadi nggak enak badan, panas-dingin; senyum yang cemberut; tegak tapi sebetulnya layu.
Berbeda dengan kalau saya berterima kasih sesama hamba. Ucapan itu pasti mengalir dengan aliran yang sangat deras. Kalau pun ada ganjalan, maka umpatan lah yang akan mengalir dengan deras. Umpatan yang membikin dada ini semakin bergetar seperti diguncang oleh gelom tsunami maha dahsyat.
Bagaimanakah berterima kasih yang benar? Ketika yang mendapat kata itu dari hamba yang lain, saya merasa di atas awang-awang, terbang ringan bersama awan putih yang selalu terlihat ceria. Terkadang terbang bersama, terkadang berlarian saling kejar tuk menikmati kebebasan yang diberikan Sang Khaliq.
Apa sebenarnya yang terjadi???
Apa yang mengganjal??? adakan kayu balok atau batu yang menghalangi ucapan saya tadi biar bisa mengalir seperti air yang melewati selang??? saya juga nggak tahu, apa yang mengganjal itu. Yang jelas ganjalan itu cukup untuk membuat diri saya menjadi nggak enak badan, panas-dingin; senyum yang cemberut; tegak tapi sebetulnya layu.
Berbeda dengan kalau saya berterima kasih sesama hamba. Ucapan itu pasti mengalir dengan aliran yang sangat deras. Kalau pun ada ganjalan, maka umpatan lah yang akan mengalir dengan deras. Umpatan yang membikin dada ini semakin bergetar seperti diguncang oleh gelom tsunami maha dahsyat.
Bagaimanakah berterima kasih yang benar? Ketika yang mendapat kata itu dari hamba yang lain, saya merasa di atas awang-awang, terbang ringan bersama awan putih yang selalu terlihat ceria. Terkadang terbang bersama, terkadang berlarian saling kejar tuk menikmati kebebasan yang diberikan Sang Khaliq.
Apa sebenarnya yang terjadi???
Langganan:
Postingan (Atom)